Mengenal Liabilitas atau Kewajiban dalam Operasional Bisnis
Mengenal Liabilitas atau Kewajiban dalam Operasional Bisnis
Liabilitas atau liability adalah jumlah terutang oleh bisnis pada periode tertentu, atau biasa di sebut sebagai kewajiban juga sering di nyatakan sebagai utang dalam pencatatan akuntansi.
Apa saja jenis-jenis liabilitas yang ada dalam bisnis dan bagaimana cara menganalisisnya? Berikut penjelasannya pada artikel Waralabaplus di bawah ini!
Bagaimana Liabilitas Bekerja dalam Sebuah Bisnis?
Ketika melakukan pembelian untuk bisnis, Anda membayar dengan uang tunai rekening giro atau Anda meminjam. Pinjaman inilah yang akhirnya menciptakan liabilitas.
Membeli dengan kartu kredit juga termasuk meminjam kecuali Anda melunasi utang kartu kredit sebelum akhir bulan.
Tentu saja, mendapat pinjaman bisnis atau hipotek untuk properti bisnis yang Anda miliki di anggap sebagai kewajiban.
Bisnis dapat memiliki kewajiban dari kegiatan operasionalnya, seperti membayar karyawan dan memungut pajak penjualan dari pelanggan.
Kewajiban ini biasa di sebut sebagai trust fund taxes karena bisnis mempercayakan hal tersebut sampai kewajiban terbayarkan.

Jenis-Jenis Liabilitas
Liabilitas di masukkan ke dalam bentuk neraca, sebuah laporan keuangan yang menunjukkan situasi bisnis pada akhir periode akuntansi.
Aset bisnis (apa yang di milikinya) di catat di sebelah kiri, dan liabilitas serta ekuitas pemilik di catat di sebelah kanan. Liabilitas di tuliskan dalam urutan tertentu dalam sebuah neraca.
1. Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban jangka panjang berada di urutan pertama. Liabilitas jangka panjang adalah kewajiban yang bisnis perkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari satu tahun. Termasuk utang pinjaman dan utang hipotek.
2. Kewajiban Jangka Pendek
Kewajiban jangka pendek terkadang di sebut sebagai liabilitas lancar, yakni kewajiban bisnis yang di harapkan terlunasi dalam satu tahun. Hal ini termasuk:
- Utang pajak penjualan: Jumlah yang di kumpulkan dari pelanggan saat penjualan dan di tahan sampai waktu jatuh tempo. Kemudian di bayarkan ke perpajakan negara.
- Utang pajak gaji: Jumlah yang di kumpulkan dari karyawan (di potong pajak penghasilan) dan di sisihkan oleh pemberi kerja. Kemudian di bayarkan kepada perpajakan negara.
- Utang pinjaman dan hipotek: Pembayaran bulanan pinjaman dan hipotek.
Perbedaan Liabilitas dan Beban
Liabilitas bisnis biasanya adalah berupa utang yang terutang oleh bisnis untuk pembelian suatu aset. Misalnya, membeli mobil perusahaan untuk penggunaan bisnis, lalu pembiayaan berakhir dengan pinjaman, berarti masuk ke dalam kewajiban.
Beban adalah pembayaran yang sedang berlangsung untuk sesuatu yang tidak memiliki nilai yang nyata, atau untuk sebuah layanan. Beban digunakan untuk menghasilkan pendapatan.
Misalnya, telepon yang digunakan untuk menghubungi pelanggan. Beberapa beban bersifat umum atau administrasi, sementara yang lain mungkin terkait langsung dengan penjualan bisnis.
Tips: Sebagian besar pembayaran yang di lakukan bisnis adalah beban. Misalnya, membayar sewa ruang kantor, atau utilitas atau telepon. Jika berhenti membayar, layanan hilang atau ruang harus di kosongkan.
Beban dan liabilitas juga muncul di tempat yang berbeda pada laporan keuangan perusahaan.
- Karena terkait dengan aset, liabilitas muncul di neraca keuangan
- Tetapi beban, muncul pada laporan laba rugi perusahaan dagang.
Perbedaan Liabilitas dan Leverage
Konsep leverage bisnis mengacu pada bagaimana bisnis memperoleh aset baru. Jika aset di peroleh dengan meminjam, melalui pinjaman, maka menambah liabilitas.
Semakin banyak pinjaman, semakin banyak leverage bisnis.
Beberapa kewajiban baik untuk bisnis, karena leverage meningkatkan aset dan bisnis harus mendapatkan dan mempertahankan pelanggan.
Misalnya, sebuah restoran mendapat terlalu banyak pelanggan dalam satu ruang, hal ini membatasi perkembangan restoran.
Maka jika restoran meminjam untuk ekspansi (menggunakan leverage), restoran dapat melayani lebih banyak pelanggan dan meningkatkan pendapatannya.
Cara Menganalisis Liabilitas Bisnis
Bisnis dapat mengukur jumlah liabilitas terhadap dua ukuran lain untuk menentukan apakah bisnis terlalu banyak utang atau kewajiban.
Berikut ini adalah beberapa jenis analisis rasio keuangan yang untuk menganalisis liabilitas perusahaan.
1. Rasio Utang terhadap Ekuitas
Rasio utang terhadap ekuitas ini mengukur kewajiban jangka pendek dan jangka panjang terhadap akun ekuitas pemilik. Jika rasio lebih dari 40-50 persen utang terhadap ekuitas berarti pemilik bisnis harus melakukan pengurangan utang.
Sebagai contoh:
Jika saldo ekuitas adalah 240jt rupiah dan utang (total kewajiban jangka panjang dan jangka pendek) adalah 150jt rupiah. Berarti rasio mencapai 60 persen. Bisnis apapun ini, harus mengurangi utangnya.
2. Rasio Utang terhadap Aset
Rasio utang terhadap aset mengukur persentase total utang (baik jangka panjang dan jangka pendek) terhadap total aset bisnis. Anda harus memiliki cukup aset untuk di jual untuk melunasi utang bisnis, jika di perlukan.
Rasio utang terhadap aset harus kurang dari 50 persen karena beberapa aset tidak dapat di jual sesuai nilainya seperti yang tercatat dalam neraca.
Sebagai contoh:
Piutang dagang (uang yang terutang ke bisnis oleh pelanggan) tidak dapat di kumpulkan.
